Olahraga

Kisah Faiq wujudkan mimpi anak Krui jadi peselancar profesional

12
×

Kisah Faiq wujudkan mimpi anak Krui jadi peselancar profesional

Share this article
Kisah Faiq wujudkan mimpi anak Krui jadi peselancar profesional

Bandarlampung – Perjalanan dari Pusat Kota Bandarlampung menuju ke Krui, pusat Kota Pesisir Barat, dengan melintasi jalan berkelok-kelok membelah kawasan taman nasional yang mana kadang disambut oleh kera-kera yang dimaksud memohonkan makanan ke pengguna jalan, memakan waktu sekitar tujuh jam.

Kondisi yang kadang diwarnai hilangnya sinyal telepon seluler, bermetamorfosis menjadi pengalaman mengasyikkan, sebelum bertemu dengan Faiq Muhammad, manusia pemuda kelahiran Krui 1995, yang digunakan terus berupaya mewujudkan mimpi anak-anak di dalam kampung halamannya untuk berubah menjadi peselancar profesional.

 
Kisah inspiratif pemuda asli Lampung itu di membantu mengembangkan peluang anak-anak desa pada Krui untuk berubah menjadi penakluk ombak, dimulai pada empat tahun silam, tepatnya pada 2020.
 
Semua upaya itu beliau jalani tanpa keahlian berselancar, melainkan belaka mengandalkan pernah bermain selancar ketika kecil di dalam kampung halaman. Karena dirinya sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah melawan (SMA) berpindah domisili ke Pusat Kota Bandarlampung, kemudian melanjutkan sekolah tinggi di dalam bidang kuliner ke Pusat Kota Bandung, Jawa Barat.
 
Setelah itu, ia menetap dalam Bali selama empat tahun, dengan profesi sebagai juru masak atau chef. Selama ia menekuni profesi itu, sebelum banting stir ke dunia selancar, bayang-bayang menaklukkan ombak liar Krui kemudian kecintaannya untuk selancar permanen memenuhi benak pemuda berperawakan besar itu.
 
Bahkan, langkah besar telah lama dipilihnya, meskipun sempat diwarnai rasa bimbang untuk melepas kesempatan emas menggapai mimpinya bekerja dalam restoran ternama juga bergengsi di Kanada. Dirinya mempercayai bahwa dengan menyingkirkan impiannya sendiri demi mewujudkan mimpi anak-anak didiknya berubah menjadi sebuah anugerah serta tujuan hidupnya.
 
“Dulu saya merupakan city boy, memandang pendatang itu dari pakaian mahalnya, berapa berbagai menghabiskan uang, bisa jadi berbelanja secara impulsif. Dan disini saya baru sadar tidak itu tujuan hidup yang saya cari, tetapi mengembangkan selancar. Meski secara finansial selancar tak menghasilkan kembali apa-apa tapi kepuasan batin mengamati adik-adik bisa saja melenggang ke turnamen nasional meningkatkan semangat di diri,” kata beliau bercerita untuk ANTARA.
 
Keputusan besar yang tersebut ia ambil berjalan ketika pandemi COVID-19. Kala itu, Pulau Dewata berubah jadi sepi dan juga pekerjaan tiada berjalan dengan baik. Kondisi itu menjadi momen tepat bagi Faiq untuk pulang ke tanah kelahirannya pada Krui, Kota Pesisir Barat.
 
Seperti sudah ditakdirkan oleh semesta, kepulangannya ke Krui telah terjadi mempertemukan dirinya dengan seseorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang mana bersahabat dengan ombak-ombak dalam sedang lautan. Karena bocah itu bukan mempunyai teman sebaya akibat mendapatkan stigma negatif lantaran tiada dapat membaca dengan lancar dalam usianya ketika itu, si bocah ombak itu sejumlah menghabiskan waktu bercengkerama dengan ombak.
 
Jeni Black Mamba, nama panggilan yang tersebut cukup unik untuk anak laki-laki kecil berkulit sawo matang yang mana sudah terbakar Matahari. Anak dengan badan kecil itu sudah mampu menunggangi ombak dengan lincah. Selain itu, ada Diah, anak perempuan yang juga telah lama bersahabat dengan ombak pada kawasan itu, berubah menjadi titik balik hidup Faiq agar mengembangkan olahraga selancar di dalam kampung halaman.
 
Potensi pengembangan olahraga selancar ke daerahnya ia dapatkan ketika mendengar beraneka cerita kemudian cita-cita anak-anak laut yang tersebut ketika ini telah terjadi berubah jadi atlet selancar potensial jika Pesisir Barat.
 
Bagi anak-anak kecil di dalam Krui, selancar tidak ada cuma sebagai olahraga, tapi sebuah awal keberadaan yang tersebut mengubah sudut padang mereka. Meraka ada yang mana berasal dari keluarga yang tersebut tak harmonis, ke tinggal sosok ayah sejak kecil, bukan sekolah, dan juga mengalami perundungan. Selancar berubah menjadi jalan meninggalkan dia dari kesulitan itu, dari dulunya dicela juga bukan punya kawan, pada waktu ini mereka berubah menjadi pujaan semua orang. Semua ingin bermetamorfosis menjadi teman dari mereka yang dimaksud dulunya diremehkan itu.
.

Shaldira, bibit atlet muda selancar pada Krui, Kota Pesisir Barat, yang tersebut sudah meraih prestasi. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Pada awal pengembangan talenta atlet selancar lokal Krui, Faiq melakukan dengan menggunakan dana pribadi.
 
Dana itu berasal dari 60 persen laba yang dimaksud didapatkan Faiq dari menjalankan kafe di dalam objek wisata setempat. Kini usahanya mengembangkan kemungkinan anak-anak itu makin berkembang, sebab telah lama berbagai sponsor dari jenama lokal hingga jenama terkenal dengan syarat Eropa, Amerika Serikat, yang mana membiayai pelatihan atlet anak-anak Krui, seperti dengan memberikan sponsor papan selancar yang harganya Rp8-10 jt per unit, lalu beraneka permintaan lainnya.
 
Saat ini telah lama ada ada 25 anak dengan syarat Pesisir Barat yang dimaksud bergerak di pengawasan untuk memperdalam kemampuan selancar yang tersebut dipersiapkan bagi pelaksanaan kompetisi.
 
Usia termuda yang disiapkan untuk kompetisi ada Jeni (12 tahun) dan juga yang digunakan tertua ada Sobari (21 tahun). Untuk peselancar perempuan ada tiga orang, yaitu Shaldira, Diah, kemudian Lala, yang ketika ini dipersiapkan untuk bergabung pada pekan oleh raga nasional (PON) untuk kelas longboard.
 
Selain 25 khalayak anak yang dimaksud sudah ada memperdalam keterampilan berselancar ke tingkat profesional, masih ada anak-anak lain yang tersebut masih berproses dengan rentang usia 7 tahunan. Mereka, saat ini tekun berlatih menggunakan papan selancar bekas dari anak-anak yang tersebut lebih banyak dewasa akibat keterbatasan finansial klub selancar lokal itu.
 
Talenta muda peselancar lokal Pesisir Barat itu sudah menorehkan sejumlah prestasi. Klub Selancar Tanjung Setia Board Rider sudah mampu menjadi juara umum pada kompetisi ke Sumatera Series.
 
Peselancar anak Shaldira telah terjadi duduk ke sikap pertama di kompetisi pada Padang, di Kaur, serta liga surfing Indonesia. Anak-anak lain pun telah dilakukan mampu meraih beragam juara ke beraneka kompetisi selancar nasional kemudian regional. Bahkan, atlet lokal bernama Junika, sedang dikirim ke Bali untuk meningkatkan jam terbang dengan mengikuti berubah-ubah kompetisi.
 
Sebenarnya ada dua kategori yang tersebut dipersiapkan untuk selancar ini, yaitu yang dipersiapkan untuk kompetisi, ada beberapa atlet muda laki-laki, seperti Sobari, dan juga untuk perempuan ada Shalidara juga Diah.
 
Sementara untuk yang tersebut free surfer, yaitu untuk keperluan foto, pengambilan video, semua atlet binaan Faiq telah bisa. Mereka juga rutin ikutkan di kejuaraan-kejuaraan, sehingga mentalnya terlatih kemudian tidaklah minder atau malu bertanding, meskipun menggunakan papan selancar yang digunakan tidaklah sebagus anak lain.
 
Agar talenta lalu bibit atlet selancar pada Lampung ataupun Sumatera semakin banyak, serta mampu meraih prestasi setinggi-tingginya, harus diselenggarakan kegiatan selancar secara rutin setiap bulan, guna mengasah kemampuan para atlet muda.

Atlet muda selancar dalam Krui Daerah Pesisir Barat yang digunakan sedang bersiap berselancar. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Cerita kesuksesan bibit atlet selancar berprestasi itu terlihat, salah satunya di dalam sosok Neysa Awalia Shaldira, siswi sekolah menengah pertama (SMP), yang mana berada dalam memasuki jenjang institusi belajar sekolah menengah menghadapi pada tahun ini. Dia merupakan bibit peselancar unggul dari Krui.
 
Gadis berpenampilan ramah dengan rambut bergelombang itu bercerita bahwa ketertarikan dirinya untuk olahraga selancar telah dimulai sejak kecil, dimana kedua pemukim tuanya merupakan warga asli Pulau Pisang yang mana tiada asing dengan derai ombak dalam perairan Pesisir Barat.
 
Dalam kompetisi kompetisi selancar internasional WSL Krui Pro 2024 yang tersebut disertai oleh 265 warga atlet profesional dari 20 negara, Dira sapaan akrab Shaldira, sama-sama atlet Krui lainnya mendapatkan kesempatan mengambil bagian juga di kelas profesional QS 5.000 melalui skema wild card.
 
Meski hanya saja mampu lolos di putaran quarter final ke kelas Junior Pro, hal itu tidaklah menyurutkan dirinya untuk terus mengukir prestasi pada bervariasi turnamen selancar lainnya.
 
Dengan konsistensi serta disiplin membagi waktu sekolah, bersosialisasi dengan rekan sejawat juga berlatih dengan anak-anak lain pada klub selancar setiap harinya menunjukkan bahwa keseriusan talenta muda selancar Pesisir Barat tidak ada bisa jadi dipandang sebelah mata.
 
Adanya peluang yang disebutkan disambut positif oleh pemerintah, yakni pemerintah pusat, melalui Menteri Pemuda serta Olahraga (Menpora) dengan inisiatif kompetisi selancar berubah jadi terintegrasi berubah menjadi kompetisi nasional, dan juga menggalang pembangunan surfing center, sebagai tempat pelatihan bagi atlet lokal pada Krui, Daerah Pesisir Barat.
 

Artikel ini disadur dari Kisah Faiq wujudkan mimpi anak Krui jadi peselancar profesional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *